Jumat, 28 Juni 2013

Kisah Nyata




SEMUA TERJADI KARENA SUATU ALASAN

Aku Frank Slazak yang selalu bermimpi untuk bisa melihat indahnya dunia dari sisi yang berbeda. Aku sangat berharap Tuhan mengizinkan agar aku bisa melihat diriku seperti ia melihatku. Aku ingin seluruh alam ada dalam pandangan mata lahirku. Namun apa daya, aku tak punya apapun untuk menggapai semua itu…”

Bermula dari impianku untuk menjadi seorang astronot dan aku ingin pergi ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat karena aku tidak memiliki gelar dan aku bukan seorang pilot.

Namun Tuhan berkehendak lain. Gedung putih mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger, dan warga itu haruslah seorang guru. Aku berpikir, aku warga biasa, dan aku seorang guru. Tanpa melepaskan setiap detikpun hari itu, aku mengirim surat lamaran ke Washington.

Setelah waktu yang terasa lama karena hari-hariku diisi dengan penantian dan rutinitas berlari untuk mengintip kotak pos, akhirnya datang juga amplop resmi berlogo NASA.
Tuhan mengabulkan do’aku. Aku lolos penyisihan pertama.
Selang beberapa waktu kemudian, aku merasakan pencapaian impianku semakin dekat, dan aku yakin itu. Ketika NASA selesai mengadakan test fisik dan mental, aku kembali menunggu dan tak pernah berhenti berdo’a.
Lalu Tuhan memberikan jawaban, aku dipanggil untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Aku sudah melewati banyak tahap, dari 43.000 pelamar, kemudian menjadi 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang terpilih untuk mengikuti penilaian akhir.
Hari-hari semakin berat karena harus melewati berbagai simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara dan berbagai tes yang harus aku jalani.

Lalu tibalah saat NASA mengumumkan hasil tes. NASA memutuskan untuk memilih Christina McAufliffe.
Aku kalah, impianku hancur dan aku depresi berat.
Keepercayaan diriku hilang, kebahagiaanku terganti dengan kemarahan. Dan saat itu aku selalu bertanya, mengapa Tuhan ? Mengapa bukan aku ? Apa yang kurang dari diriku ? Mengapa Engkau begitu kejam padaku ?

Saat aku menatap ayah, dia bilang, “semua terjadi karena suatu alasan”.

Hari itu, selasa 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Ketika pesawat melewati landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu.

Dan, 73 detik kemudian. Tuhan menjawab semua pertanyaanku. Pesawat Challanger meledak dan menewaskan semua astronot !

Seketika aku teringat ucapan ayahku, “Semua terjadi karena suatu alasan”

Aku tidak terpilih untuk menjadi seorang astronot yang ikut dalam penerbangan itu meski aku sangat menginginkannya. Dan kini aku paham, ternyata Tuhan memiliki alasan lain. Tuhan masih ingin aku berada dibumi. Atas dasar itu, aku bisa, aku tidak kalah, dan mungkin aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua do’aku terkabul.


Tidak semua do’a dikabulkan sesuai yang kita inginkan..
Karena Allah menjawab do’a kita dengan tiga cara:
1.      Ketika do’a kita dikabulkan, berarti kita mendapat apa yang kita minta.
2.      Ketika do’a kita tidak dikabulkan, itu berarti kita akan mendapat yang lebih baik
3.      Ketika do’a kita lambat dijawab-Nya, itu berarti kita akan mendapatkan yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar